RU’YATUL HILAL ATAU PEMANTAUAN HILAL ?
- Diposting Oleh Admin
- Rabu, 18 Februari 2026
- Dilihat 94 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
DIS-Pasca-UIN Madura : Ru’yatul hilal secara leksikal memiliki makna melihat bulan sabit. Sedangkan hilal itu sendiri dimaknai bulan sabit, yakni bulan yang muncul pada setiap tanggal baru atau tanggal pertama pada setiap bulan yang menandai masuknya bulan baru. Dinamakan bulan sabit karena bulannya terlihat seperti sabit atau arit (menurut orang Jawa). Maka hampir setiap akhir bulan Hijriyah atau menjelang datangnya bulan baru selalu dilakukan pemantauan bulan sabit atau hilal untuk memberitahukan datangnya bulan baru, terutama bulan-bulan tertentu yang sangat masyhur, seperti bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Tatkala para pemantau melihat bulan sabit, maka itulah yang disebut dengan ru’yatul hilal.
Dalam hal ini sudah jadi pergeseran makna dari pemantauan hilal, lalu diglobalkan menjadi ru’yatul hilal, ada atau tidak ada bulan sabitnya, maka tetap saja oleh sebagian kalangan disebut dengan ru’yatul hilal, padahal kegiatan sebenarnya adalah pemantauan hilal, tapi kemudian masif orang-orang mengatakan kegiatan tersebut dengan ru’yatul hilal , sekalipun hilalnya tidak ditemukan. Sebenarnya agak melenceng dari kenyataan, karena hanya memantau, dan tidak terpantau atau terlihat bulannya, kok disebut ru’yatul hilal.
Demikian pula telah terjadi pergeseran pemahaman dari ru’yatul hilal itu sendiri, di mana secara hisab sudah dikalkulasi dan sudah disampaikan bahwa tidak akan ditemukan hilal pada malam itu, akan tetapi kegiatan pemantauan hilal tetap dilakukan di mana-mana hampir di setiap titik yang disepakati akan bisa menemukan hilal, akan tetapi tetap seperti apa yang diperhitungkan oleh kalkulasi hisab, hilal tidak kunjung ditemukan dan hasil pemantauannya nihil. Toh Walaupun demikian orang-orang tetap menyebut kegiatan seperti itu sebagai ru’yatul hilal. Barangkali akan menjadi sesuatu yang baik jika sudah diperhitungkan bahwa ketinggian bulan itu nol derajat atau di bawah nol, maka tidak usah lagi diadakan pemantauan hilal secara besar-besaran, karena hasilnya tidak akan pernah menemukan hilal atau bulan sabit.
Follow up dari kegiatan pemantauan hilang berlanjut kepada sidang itsbat atau penetapan tanggal 1 Ramadhan atau bulan-bulan yang lainnya, seperti Syawal dan Dzulhijjah berdasarkan hisab dan pemantauan hilal. Jika berdasarkan hisab sudah tidak memungkinkan ditemukan hilal atau bulan sabit, dan pada kenyataannya pemantauan hilal pun hasilnya nihil, maka tanggal 1 ditetapkan keesokan hari setelah pemantauan hilal tersebut, yang pada tahun ini kegiatan pemantauan hilal dilakukan pada hari Selasa sore menjelang masuk malam Rabu, dan tidak ditemukan hilal. Jika tidak ditemukan bulan sabit, dan secara hisab juga demikian, maka tanggal satu ditetapkan satu hari setelah hari esok. Maka ditetapkanlah tanggal 1 Ramadhan itu bertepatan dengan hari Kamis tanggal 19 Februari 2026. Itulah ketetapan pemerintah sebagai Ulil Amri yang dalam hal ini Kementerian Agama, dan ketetapan itu disampaikan oleh menteri agama. Toh Walaupun demikian, ada juga sebagian kalangan umat Islam yang menjalankan puasa keesokan harinya pada hari Rabu yang didasarkan kepada pemantauan hilal global, di mana secara global hilal dijumpai di sebagian belahan dunia, seperti di Arab Saudi. Maka Arab Saudi mengumumkan puasa 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu tanggal 18 Februari yang kemudian diikuti oleh sebagian kalangan umat Islam di tanah air. Mereka juga memberlakukan kalender Hijriyah global yang menyamakan hari dan tanggal yang sama di seluruh dunia. Atas dasar kenyataan itulah permulaan 1 Ramadan di tanah air mengalami perbedaan, ada yang memulai hari Rabu tanggal 18 Februari dan ada yang memulai tanggal 19 Februari hari Kamis. Oleh karena itu umat Islam diharapkan saling menghargai satu sama lainnya, apalagi umat Islam di Indonesia sudah masyhur di seluruh dunia, bahwa umat Islam Indonesia merupakan umat Islam yang moderat, sehingga dalam menyikapi perbedaan permulaan Ramadhan umat Islam juga menerapkan prinsip-prinsip moderasi, dan tetap terjalin ukhuwah islamiyah di kalangan umat Islam.