Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

FILOSOFI SARABI ATAU SERABI

  • Diposting Oleh Admin
  • Senin, 9 Maret 2026
  • Dilihat 13 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Satu hari lagi Ramadhan akan memasuki 10 hari yang terakhir. Di 10 hari yang terakhir inilah umat Islam dianjurkan oleh Rasulullah untuk meningkatkan ibadah dan memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tentunya di 10 hari yang terakhir ini kita masuk ke malam Salekoran (Madura: dua puluh satu) atau selikur (Jawa). Biasanya pada malam selikur ini ada tradisi yang sudah turun-temurun, adanya sejak dahulu, entah mulai kapan, belum diteliti pastinya, seingat saya sejak kecil, belum sekolah, tradisi itu sudah ada, yaitu membagi-bagikan serabi di malam selikuran. Biasanya orang kampung di hari yang ke-20 bulan Ramadhan sudah mulai membikin serabi dan pada sore harinya setelah Ashar atau menjelang Maghrib serabi itu dingantarkan ke tetangga-tetangga. Begitu pula tetangga yang satunya mengantarkan serabi bikinannya ke tetangga di sekitarnya juga. Jadi ada tradisi saling mengantarkan serabi, dan pada kesempatan berbuka bersama serabi itu juga diantarkan ke masjid atau musholla, tempat orang berkumpul untuk buka bersama. Sedangkan Pada malam harinya serabi itu dihidangkan untuk menu mereka yang tadarrus Al-Qur’an setelah salat tarawih.

Serabi merupakan menu jajanan yang unik. Kalau di Madura jarang dijumpai selain di malam selikur bulan Ramadhan. Jajanan yang sederhana, cuma terbuat dari tepung beras dicampur dengan kelapa atau santannya, dibumbui sedikit garam, tergantung selera. Sangat sederhana dari aspek bahan mentahnya. Kalau di Jawa, serambi ini bisa dijumpai hampir tiap hari di pasar atau warung. Demikian juga di Sunda, akan tetapi sudah dimodifikasi dengan sekian banyak campuran untuk disajikan, seperti ketan dan ekstrak gula aren. Dan akhir-akhir ini, di masyarakat Madura pun sudah mulai ada jajanan serabi walaupun dengan tekstur yang agak berbeda, mirip apem yang dijual di pasar-pasar, disajikan dengan parutan kelapa dicampur gula aren cair.

Kenapa tradisi jajanan serabi itu bisa bertahan hingga kini, di era kontemporer dan masyarakat tidak merasa jenuh dengan jajanan itu? Inilah yang harus kita telisik apa sebenarnya yang ada di balik jajan serabi itu, Pertanyaan itu akan mengundang sejumlah analisis dan memunculkan banyak filosofi tentang eksistensi jajanan serambi itu sendiri

Serabi menurut analisis sebagian ulama di Madura itu berasal dari bahasa Arab, yaitu “syarafun”, yang bermakna mulia. Dengan demikian dibikinnya jajanan serabi itu dan disajikan di tempat-tempat mulia serta dengan ketulusan hati, akan mendatangkan kemuliaan. Bersedekah dengan jajanan serabi itu bertujuan untuk mendapatkan kemuliaan dari Allah semata. Kemuliaan itu adalah anugerah dari Allah subhanahu wa ta'ala yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki oleh-Nya karena telah berbuat sesuatu yang mulia, Maka Diharapkan dengan bersedekah akan selalu mendapatkan kemuliaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, Sungguh Agung Allah yang telah memberikan kemuliaan pada hamba-Nya walaupun hanya melalui jajan atau kue serabi.

Lain lagi dalam filosofi Jawa. Filosofi serabi dalam budaya Jawa melambangkan sebagai manunggaling atau penyatuan, dan disematkan sikap kesederhanaan dan keharmonisan hidup. Serabi berasal dari kata "rabi" yang berarti menikah, Dalam hal ini, serabi sering berperan sebagi  simbol ikatan pasangan, simbol saling memiliki yang melahirkan rasa syukur, serta kehangatan jalinan kekeluargaan dan kehangatan persaudaraan. Makanya serabi dimasak menggunakan tungku tanah liat secara tradisional, dan menunjukkan sesuatu yang natural. Dalam konteks adat, serabi melambangkan penyatuan dua insan serta peran dan tanggung jawab yang akan diemban pasangan.

Pada umumnya, warna putih dipilih sebagai permukaan serabi merupakan simbol kesucian dan kesederhanaan hidup. Kejujuran dan kemurnian dilambangkan oleh bahab dasar yang sangat sederhana.. Kemudian, bentuknya yang bundar melambangkan kuatnya ikatan kekeluargan dan persaudaraan. Ibarat lingkaran keluarga, setiap orang mengikatkan diri dengan lingkaran keluarga atau pergaulannya. Aktivitas serabi mencerminkan sikap dermawan dengan bersedekah tanpa pamrih dan perhitungan, sehingga serabi selalu diantar oleh si pembuat untuk diberikan ke tetangga-tetangganya. Semangat bersedekah sangat tinggi dan tidak kenal lelah. Ingat serabi, pasti ingat sedekah, karena tidak dianggap afdol serabi tanpa sedekah. Membikin rerabi pasti diikuti dengan bersedekah.