Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

PUASA RAMADAN MERUPAKAN UJIAN UNTUK SIMPATI DAN EMPATI TERHADAP SESAMA

  • Diposting Oleh Admin
  • Jumat, 6 Maret 2026
  • Dilihat 99 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

 

Salah satu hikmah puasa Ramadan adalah menumbuhkan rasa simpati dan empati di antara sesama.  Simpati adalah perasaan iba, kasihan, atau kepedulian emosional terhadap orang lain yang mengalami kesulitan, sering kali disertai dorongan untuk memberi dukungan. Berbeda dengan empati, simpati melibatkan pemahaman situasi tanpa harus merasakan emosi yang sama persis. Ini mendorong interaksi sosial yang sehat dan peduli. Mereka yang puasa tentunya akan mengalami lapar dan haus, di mana keadaan tersebut sebelumnya tidak dirasakan, sebelum menjalani puasa Ramadan. Akan tetapi banyak di antara saudara-saudara kita, entah di belahan bumi manapun, ada orang-orang yang kelaparan, Maka untuk menggugah rasa simpati dan empati dalam diri kita. diperintahkanlahlah berpuasa.

Dengan berpuasa seseorang juga akan mengalami rasa lapar dan haus, sebagaimana juga dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung, selalu dililit oleh kelaparan. Begitu pula kita hendaknya bersimpati dan berempati terhadap saudara-saudara kita yang sedang mendapatkan ujian berupa bencana alam, banjir, gempa, tanah longsor, erupsi gunung berapi dan lain sebagainya. Termasuk juga keadaan tidak menguntungkan yang dialami dan derita oleh saudara kita yang ada di daerah konflik, seperti perang yang melanda Timur Tengah, di mana Iran terlibat perang dengan Israel berkoalisi dengan Amerika Serikat. Dalam kondisi seperti ini kita diuji oleh Allah, apakah kita memiliki simpati dan empati terhadap mereka yang ada di Iran.

Namun dalam hal ini simpati dan empati itu dihadapkan kepada rasa persaudaraan atau Ukhuwah dengan pertanyaan masihkah kita menganggap mereka saudara kita? atau pada persaudaraan yang mana mereka itu dianggap relevan, sehingga bisa tetap terajut simpati dan empat, dan bersemayam dalam diri kita. Dalam hal ini ada beberapa level Ukhuwah atau persaudaraan. Pertama, Ukhuwah Wathoniyah, persaudaraan kebangsaan. Pada level ini mungkin kita tidak merasa bersaudara dengan mereka yang ada di luar Indonesia, termasuk rakyat Iran, walaupun mereka adalah keluarga muslim. Mereka beda negara dengan kita, maka persaudaraan dalam hal ini tidak terjalin.

Kedua, Ukhuwah jam'iyah atau ashobiyah, persaudaraan seorganisasi atau sesama kelompoknya, persaudaraan sesama mazhab atau golongan. Pada level ini akan semakin Jauh jurang yang menganga antara kita dengan orang-orang yang ada di Iran. Mereka itu Syi’ah, sementara kita sunni. Jadi Kita dipisahkan oleh golongan.

 Ketiga, ukhuwah Islamiyah, persaudaraan  sesama muslim. Dalam hal ini siapapun yang merasa dirinya muslim adalah bersaudara, di manapun itu berada dan tinggal, walaupun lintas pulau, lintas negara, lintas benua, dan berlainan kewarganegaraan, namun tetap bersaudara sesama muslim. Namun kemudian, kadang datang ujian menghantui kita, di mana sebagian menganggap Syi’ah itu sesat, sehingga sebagian menganggap bukan saudara muslim. Padahal yang menganggap demikian, karena mereka belum tahu sejatinya seperti apa Syi’ah. Bagi mereka yang sudah paham tentunya hanya akan menganggap perbedaan di antara mereka dengan kita hanyalah perbedaan mazhab dan golongan, namun tetap sesama muslim, jadi tetap bersaudara.

Keempat, adalah Ukhuwah insaniyah atau Basyariah, persaudaraan sesama manusia. Maka seluruh umat manusia di mana pun itu berada, walaupun berlainan bangsa, agama, warna kulit, Bahasa, apalagi hanya berlainan golongan atau organisasi, semuanya tetap bersaudara. Maka sesama manusia, kita harus punya empati dan simpati. sehingga ada dorongan dalam diri untuk saling membantu dan meringankan saudara kita yang kurang beruntung. Entah menolong dengan materi, tenaga atau dengan memberi semangat dan doa agar mereka keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan, dan bisa merasakan juga keberuntungan dan kenyamanan yang dirasakan oleh saudaranya yang lain.

Fitrah manusia memang berkelompol-kelompok, karena manusia diciptakan oleh Allah bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, sehingga membentuk kelompok atau golongan. Hal tersebut dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur’an, surah al-Hujurat, ayat 13;

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

 

Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

Begitu pula, Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah;

افترقَتِ اليهودُ على إحدى وسبعين فرقةً، وتفرَّقت النَّصارى على اثنتين وسبعين فرقةً، وتَفتَرِقُ أمَّتي على ثلاث وسبعين فرقةً كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: ما كان أنا عليه وأصحابي. وفي رواية: وهي الجماعة.

 

Orang Yahudi telah terpecah belah menjadi 71 golongan, Orang Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan, dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke Neraka, kecuali satu. Sahabat bertanya: “Siapa itu gerangan wahai Rasulullah?” Rasululullah saw. menjawab: “Orang yang mengikutiku dan para sahabatku.” Dalam riwayat lain: “Mereka adalah al-Jamā’ah.”

Karena diciptakan bergolong-golongan atau berbangsa-bangsa, maka manusia dianjurkan hendaknya saling merajut kasih sayang. Dengan saling menyayangi itulah umat manusia akan merasa saling bersaudara, satu keluarga besar, bahkan akan disayangi oleh seluruh penghuni bumi dan langit. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda;

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الراحمون يرحمهم الرحمن، ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء.

Dari Abdullah bin Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: Orang-orang yang pengasih akan dikasihi Allah Sang Maha Pengasih. Kasihilah siapapun di bumi maka yang di langit akan mengasihimu.

Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda yang diriwayatkan Imam Bukhari (no. 6011) dan Imam Muslim (no. 2586);

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya).”

Dalam Riwayat yang lain,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dari jalur Riwayat yang sama, Imam Bukhari (no. 6026) dan (Imam Muslim no. 2585);

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain.”

Karena masih diikat dalam satu persaudaraan di antara sesama, maka di antara sesama umat Islam hendaknya saling simpati dan empati, Itulah sikap muslim sejadi, mampu menembus sekat perbedaan yang menjadi penghalang untuk saling menyayangi di antara sesama. Kita muslim, mereka juga muslim, tunjukkanlah kepedulian kita terhadap saudara kita, karena jika tidak peduli, diragukan kesetiaan kita terhadap persaudaraan muslim. Dalam sebuah Riwayat, walaupun dinilai dha’if, Rasulullah bersabda;

من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم .

 

Barang siapa tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka mereka bukan dari golongan muslim.

Kepedulian Adalah kunci persaudaraan. Kepedulian pasti memunculkan simpati dan empati. Maka dalam kasus konflik Iran versus Israel plus Amerika Serikat, umat Islam harus tunjukan simpati dan empatinya terhadap saudara kita yang berada di Iran, minimal dengan mendoakan mereka selamat.