Alamat

Gedung Pascasarjana UIN Madura

Telp./WA

(0324) 6-1234-33

Email

dis@iainmadura.ac.id

WAHYU TERUS BERPROSES DAN TIDAK PERNAH BERHENTI

  • Diposting Oleh Admin
  • Selasa, 10 Maret 2026
  • Dilihat 32 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)

 

Secara masif wahyu dikenal sebagai firman Allah yang diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada para Rasul, termasuk yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, dan wahyu itu kita kenal sebagai Al-Qur’an. Walaupun sebenarnya wahyu tidak sebatas itu, masih ada wahyu lain, yaitu wahyu Ilham yang diberikan kepada selain nabi dan rasul, yakni kepada para Kekasih Allah, seperti wahyu yang disampaikan kepada ibu Nabi Musa, Yuhanad. Seperti ayat 7, surah al-Qashash;

وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اُمِّ مُوْسٰٓى اَنْ اَرْضِعِيْهِۚ فَاِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَاَلْقِيْهِ فِى الْيَمِّ وَلَا تَخَافِيْ وَلَا تَحْزَنِيْ ۚاِنَّا رَاۤدُّوْهُ اِلَيْكِ وَجَاعِلُوْهُ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ

“Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, “Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir atas (keselamatan)-nya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”

Begitu pula ada wahyu yang disampaikan kepada lebah untuk bisa berproses membangun jejaring dan menghasilkan madu. Pada tataran jenis wahyu yang kedua ini, kemungkinan hal itu juga terus berproses dalam bentuk Ilham. Allah berfirman dalam Surah al-Nahl, ayat 68;

وَاَوْحٰى رَبُّكَ اِلَى النَّحْلِ اَنِ اتَّخِذِيْ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوْتًا وَّمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُوْنَۙ

“Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang dibuat oleh manusia.

Wahyu berupa Al-Qur’an diturunkan oleh Allah melalui Malaikat Jibril, disampaikan kepada Nabi Muhammad secara bertahap. Itu adalah proses turunnya wahyu pada fase kedua. Sedangkan fase pertama wahyu itu diturunkan dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah yang dikenal sebagai langit pertama dan diturunkan secara sekaligus (daf’atan wahidah). Setelah dari langit pertama inilah mulai fase kedua turunnya wahyu Al-Qur;an disampaikan oleh Malaikat Jibril secara bertahap, yang menurut sebagian ulama atau mufassir itu dimulai pada tanggal 17 Ramadhan, sehingga malam 17 Ramadhan disebut malam nuzulul Qur’an (turunnya Al-Qur’an), yang mana Rasulullah pada waktu itu sedang munajat kepada Allah di gua Hira’. Begitu seterusnya wahyu itu turun berproses hingga akhirnya sampai pada akhir ujung fase kedua ini, wahyu terus diterima oleh Nabi Muhammad. Penghujung dari turunnya wahyu pada fase ini adalah ayat 3 dari surah Al-Maidah;

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

 

“  …. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Maka, siapa yang terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Pada ayat tersebut Allah menyatakan bahwa agama Allah sudah sempurna (kamal) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan nikmat Allah pun sudah sempurna (taman) yang diberikan kepada Nabi Muhammad. Dari sinilah, menurut Ibnu Abbas, sebagai pertanda atau indikasi bahwa tugas Rasulullah sudah hampir selesai, karena semuanya sudah sempurna. Berarti Islam sudah tidak lagi membutuhkan sentuhan dan bimbingan Rasulullah secara langsung. Akan tetapi nabi sudah menyerahkan penyampaian Al-Qur’an kepada para sahabat untuk diteruskan kepada generasi berikutnya, sampai ke masa para ulama-ulama muslim yang kesemuanya wajib menyampaikan Al-Qur’an kepada yang lain.

Dengan berakhirnya wahyu yang diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, yang ditandai dengan sempurnanya agama dan nikmat Allah yang diberikan kepadanya, maka berhentilah turunnya wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad. Namun demikian Wahyu tidak pernah terhenti sampai di situ saja, melainkan wahyu tetap terus berproses, karena wahyu hanya sampai di bumi, artinya dari langit pertama diturunkan oleh Malaikat Jibril sampai sempurna diterima oleh Nabi di bumi. Maka proses selanjutnya wahyu itu adalah aktivasi penetrasi atau injeksi dalam hati setiap mukmin.

Nah, dalam hal ini wahyu terus berproses. Mulai dari Wahyu itu dibacakan, dipahami, dihayati, kemudian dimasukkan ke dalam hati, yang kemudian berbuah menjadi pengamalan. Dalam konteks ini wahyu diibaratkan seperti energi yang tidak akan pernah habis dan terus aktif berproses. Begitu pula wahyu-Nya akan terus berproses mengisi relung sanubari setiap umat beriman dan itu tidak akan pernah berhenti, serta  tidak akan pernah mati aktivitas tersebut hingga wahyu itu bersemayam di dalam hati, dan bahkan hingga orang-orang beriman itu yakin bahwa mereka sudah menerima iman terhadap Allah, Rasul dan Al-Qur’an sebagai rangkaian yang harus diterima. Keimanan itu tetap melekat hingga datangnya keyakinan sejati, dimulai dari fase kematian hingga masuk hari kiamat.