PUASA RAMADHAN MERUPAKAN RAHASIA ALLAH
- Diposting Oleh Admin
- Rabu, 25 Februari 2026
- Dilihat 56 Kali
Oleh: Dr. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.
(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah Pascasarjana UIN Madura)
Bulan Ramadhan merupakan bulan barokah karena di dalamnya Allah menurunkan barokah yang banyak kepada hamba-Nya. Bulan Ramadhan disebut pula bulan mudha’afatil hasanat (dilipatgandakan pahala) bagi mereka yang berbuat kebaikan. Pahala di bulan puasa tidak hanya dilipatgandakan 10 atau 100 kali, bahkan 1000 kali pun lebih banyak dan hanya Allah yang mengetahui banyaknya pahala yang diberikan oleh-Nya kepada hamba-Nya. Hal itu merupakan rahasia Allah yang berupa barokah, yang sering dimaknai ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan) yang diberikan oleh Allah. Barokah tidak hanya berwujud pahala atau hal-hal lain yang bersifat batiniyah, seperti ketenangan, bahagia, sehat dan lain sebagainya. Akan tetapi juga sesuatu yang bersifat lahir yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, seperti ekonomi yang menyangkut kekayaan, ketercukupan kebutuhan, sarana dan pra sarana semakin meningkat ketersediaannya di bulan Ramadhan ini.
Kalau kita jalan-jalan di sore hari, sepanjang jalan akan kita jumpai banyak sekali pedagang dadakan yang menyediakan keperluan buka, sahur dan hal-hal lainnya yang jumlahnya jauh meningkat berlipat-lipat dibandingkan dengan di luar bulan Ramadhan. Akan tetapi anehnya dagangan mereka laris, padahal jika di bulan-bulan selain Ramadhan sulit untuk menjajakan barang-barang atau makanan tersebut. Anehnya lagi, para pembeli sangat membludak seakan-akan tidak terpengaruh oleh situasi, entah itu musim panen lagi banyak hasilnya atau tidak ada musim yang menghasilkan. Mereka tetap berjubel memberi makanan-makanan tersebut, seakan-akan efisiensi tidak berlaku bagi mereka.
Yang biasanya tidak terbiasa berjualan di luar bulan Ramadhan, berinisiatif dan beraksi berjualan menyediakan segala macam kebutuhan buku puasa, dan terkadang sahur juga tersedia. Mereka seakan-akan berlomba-lomba berjualan. Yang biasanya jarang berbelanja sebelum Ramadhan, pas di bulan Ramadhan berjejer di tempat-tempat jualan, seolah-olah antri membeli makanan atau barang lainnya. Toko-toko di pinggir jalan, baik di kota maupun desa pengunjungnya jauh meningkat ketimbang di luar bulan Ramadhan. Pasar-pasar semakin ramai dengan pembeli dan jauh lebih ramai daripada di luar bulan suci Ramadhan, dan barang dagangannya pun jauh lebih banyak. Namun anehnya barang yang dijual jauh lebih laris daripada di luar bulan suci Ramadhan.
Jika situasi seperti itu dinalar secara matematis, maka akan dijumpai banyak hal yang di luar Nalar. Secara kalkulasi, daya beli masyarakat biasanya rendah pada kondisi normal. Akan tetapi drastis meningkat, daya beli masyarakat menjadi tinggi pada bulan suci Ramadhan. Padahal penghasilan biasa (tetap) saja atau konstan. Lantas dari mana uang yang setiap hari mereka belanjakan dan selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan makan buka dan sahur mereka. Analisis secara pertumbuhan ekonomi, seperti hasil panen dan kebun, mungkin tidak akan sampai ke arah sana, dan akhirnya analisis mengarah kepada barokah yang diberikan oleh Allah kepada semua hamba-Nya di bulan Ramadhan begitu besar. Mungkin Allah berikan peningkatan di perputaran uang, sehingga ekonomi mengalami peningkatan.
Barokah itu tidah hanya sebatas dalam perputaran materi, seperti sektor jual beli, akan tetapi sifat filantropi atau kedermawanan pun semakin meningkat. Zakat yang dikumpulkan naik sangat drastic. Sedekah sangat banyak membludak di bulan Ramadhan. Subsidi pun banyak, dikucurkan di bulan suci Ramadhan, dan bahkan THR adanya itu hanya di bulan Ramadhan. Mungkin kita sulit untuk mengkalkulasi semuanya itu. Itulah barokah yang merupakan rahasia Allah yang tidak terbatas banyaknya, yang di anugerahkan kepada hamba-Nya. Itulah juga rahasia Allah yang terkandung di dalam puasa Ramadhan, sebagaimana di firmankan oleh Allah dalam Hadis Qudsi;
عن أبي هريرة ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻨﻪ ﻳﻘﻮﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋليه ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﻛﻞ ﻋﻤﻞ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﻓﺈﻧﻪ ﻟﻲ ﻭﺃﻧﺎ ﺃﺟﺰﻱ ﺑﻪ _ الحديث _
Artinya: Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA. Beliau berkata Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT berfirman: Semua amal ibadah anak Adam untuk mereka sendiri kecuali puasa. Sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasan kepadanya.
Sebagaimana dirilis oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, bahwa memasuki Ramadhan dan jelang Idul Fitri, daya beli Masyarakat meningkat dan sektor manufaktur tumbuh positih. Dilansir dari Majalah Suara 'Aisyiyah, bahwa berdasarkan proyeksi dan data ekonomi terbaru menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026, dinamika ekonomi menunjukkan peningkatan yang signifikan, didorong oleh perputaran uang dan konsumsi rumah tangga.
Prosentasenya pada peningkatan dinamika ekonomi selama Ramadan – Hari Raya terjaadi pada perputaran Uang (2026), selama periode Ramadan–Lebaran 2026 diproyeksikan menembus Rp 190 triliun, berarti meningkat 15% dibandingkan periode sebelumnya. Terjadi pertumbuhan Ekonomi pada Triwulanan (2026). Ramadan dan Idul Fitri tahun ini diyakini mampu mengerek pertumbuhan ekonomi domestik hingga mencapai kisaran 5,5% pada kuartal terkait. Sedangkan omzet Ritel, pada omzet penjualan retail diprediksi melonjak hingga 30%. Konsumsi rumah tangga merupakan motor utama, berkontribusi lebih dari 50% terhadap PDB, dengan lonjakan belanja tertinggi terjadi di sektor kuliner, fashion, dan kebutuhan pokok masyarakat. Akan tetapi beberapa analis menyoroti potensi penurunan perputaran uang pada momen 2025 (terutama libur Lebaran) sebesar 12,3% dibandingkan 2024 akibat penurunan daya beli, menjadi Rp137,97 triliun. Meskipun demikian, momen secara keseluruhan tetap menunjukkan kenaikan dibanding bulan-bulan biasa. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor pendukung dinamika ekonomi, seperti pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan bonus, peningkatan konsumsi makanan dan minuman, serta fashion (gaya busana) yang mendorong belanja pakaian, dan aktivitas pariwisata religi dan mudik lebaran.